Pencegahan HIV dari Ibu ke Anak. Memang bisa ?

Posted on Posted in Info Laktasi

Pencegahan HIV Dari Ibu Ke Anak

  Ilustrasi: temansehati.web.id

Rumah ASI Bali – Pencegahan penularan HIV dari ibu keanak dilaksanakan melalui kegiatan komprehensif yang meliputi empat pilar (4 prong), yaitu:

  1. Pencegahan penularan HIV pada perempuan usia produksi (15-49 tahun)

Prong pertama ini merupakan langkah dini yang paling efektif untuk mencegah terjadinya penularan HIV pada anak adalah dengan mencegah penularan HIV pada perempuan usia produksi 15-49 tahun (pencegahan primer). Pencegahan primer bertujuan untuk mencegah penularan HIV dari ibu ke anak secara dini, yaitu baik sebelum terjadinya perilaku hubungan seksual berisiko atau bila terjadi perilaku seksual berisiko maka penularan masih bisa dicegah, termasuk mencegah ibu dan ibu hamil agar tidak tertular oleh pasangannya yang terinfeksi HIV.

Untuk menghindari perilaku seksual yang berisiko upaya mencegah penularan    HIV menggunakan strategi “ABCD”, yaitu :

  • A (Abstinence), artinya Absen seks atau tidak melakukan hubungan seks bagi orang yang belum menikah
  • B (Be Faithful), artinya Bersikap saling setia kepada satu pasangan seks (tidak berganti-ganti pasangan)
  • C (Condom), artinya Cegah penularan HIV melalui hubungan seksual dengan menggunakan kondom
  • D (Drug No), artinya Dilarang menggunakan narkoba.
  1. Pencegahan kehamilan yang tidak direncanakan pada perempuan HIV positif

Perempuan dengan HIV berpotensi menularkan virus kepada bayi yang dikandungnya jika hamil. Karena itu, ODHA permepuan disarankan untuk mendapatkan akses layanan yang menyediakan informasi dan sarana kontrasepsi yang aman dan efektif untuk mencegah untuk mencegah kehamilan yang tidak direncanakan.

  • Perempuan dengan HIV yang tidak ingin hamil dapat menggunakan kontrasepsi yang sesuai dengan kondisinya dan disertai penggunaan kondom untuk mencegah penularan HIV dan IMS
  • Perempuan dengan HIV yang memutuskan untuk tidak mempunyai anak lagi disarankan untuk menggunakan kontrasepsi mantap dan tetap menggunakan kondom

Ibu dengan HIV dapat merencanakan kehamilannya dan diupayakan agar bayinya tidak terinfeksi HIV. Perempuan dengan HIV yang belum terindikasi untuk terapi ARV bila memutuskan untuk hamil akan menerima ARV seumur hidupnya. Jika sudah mendapatkan terapi ARV, jumlah virus HIV ditubuhnya menjadi sangat rendah (tidak terdeteksi), sehingga risiko penularan HIV dari ibu ke anak menjadi kecil, yang artinya ia mempunyai peluang besar untuk memiliki anak HIV negatif. Perlu selalu diingat walau ibu/pasangannya sudah mendapatkan ARV demikian penggunaan kondom harus tetap dilakukan setiap berhubungan seksual untuk mencegah penularan pada pasangannya.

  1. Pencegahan penularan HIV dari ibu hamil ke bayi yang dikandung

Strategi pencegahan penularan HIV pada ibu hamil yang telah terinfeksi HIV ini merupakan inti dari kegiatan Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Anak. Pelayanan Kesehatan Ibu dan Ank yang komprehensif mencakup kegiatan sebagai berikut

  • Layanan ANC (periksa kehamilan) terpadu termasuk penawaran dan tes HIV
  • Diagnosis HIV
  • Pemberian terapi antiretroviral
  • Persalinan yang aman
  • Tatalaksana pemberian makanan bagi bayi dan anak
  • Menunda dan mengatur kehamilan
  • Pemberian profilaksis ARV dan kotrimoksazol pada anak
  • Pemeriksaan diagnostik HIV pada anak

Semua jenis kegiatan diatas akan mencapai hasil yang efektif jika dijalankan secara berkesinambung. Kombinasi kegiatan tersebut merupakan strategi yang paling efektif untuk mengidentifikasi perempuan yang terinfeksi HIV serta mengurangi risio penularan HIV dari ibu ke anak periode kehamilan, ersalinan dan pasca kelahiran.

  1. Dukungan psikologis, sosial, dan perawatan kesehatan selanjutnya kepada ibu yang terinfeksi HIV dan bayi serta keluarganya

Upaya pencegahan penularan HIV dari ibu ke anak tidak berhenti setelah ibu melahirkan. Ibu akan hidup dengan HIV di tubuhnya. Ia membutuhkan dukungan psikologi, sosial, dan perawatan sepanjang waktu. Hal ini terutama karena si ibu akan menghadapi masalah stigma dan diskriminasi masyarakat terhadap ODHA. Faktor kerahasiaan status HIV ibu sangat penting dijaga. Dukungan juga harus diberikan kepada anak dan keluarganya.

Beberapa hal yang mungkin dibutuhkan oleh ibu dengan HIV antara lain:

  • Pengobatan ARV jangka panjang
  • Pengobatan gejala penyakit
  • Pemeriksaan kondisi kesehatan dan pemantauan terapi ARV (termasuk CD4 dan viral load)
  • Konseling dan dukungan kontrasepsi dan pengaturan kehamilan
  • Informasi dan edukasi pemberian makanan bayi
  • Pencegahan dan pengobatan infeksi oportunistik untuk diri sendiri dan bayinya
  • Penyuluhan kepada anggota keluarga tentang cara penularan HIV dan Pencegahannya
  • Layanan klinik dan rumah sakit yang bersahabat
  • Kunjungan ke rumah (home visit)
  • Dukungan teman-teman sesama HIV positif, terlebih sesama ibu dengan HIV
  • Adanya pendamping saat sedang dirawat
  • Dukungan dari pasangan
  • Dukungan kegiatan peningkatanan ekonomi keluarga
  • Dukungan perawatan dan pendidikan bagi anak

Dengan adanya dukungan psikososial yang baik, ibu dan HIV akan berisikap optimis dan bersemangat mengisi kehidupannya. Diharapkan ia akan bertindak bijak dan positif untuk senantiasa menjaga kesehatan diri dan anaknya, serta berperilaku sehat agar tidak terjadi penularan HIV dari dirinya ke orang lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *